BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Sebagaimana yang kita ketahui Negara kita Indonesia adalah negara yang majemuk. Hal itu bisa dibuktikan dari berbagai macam keanekaragaman budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Keanekaragaman tersebut antara lain meliputi, suku, bangsa, bahasa, ras, termasuk di dalamnya agama. Keanekaragaman ini ibarat dua sisi mata pedang, di sisi lain dia bisa menjadi aset berharga untuk bangsa kita namun d isisi lain ia justru bisa menjadi ancaman bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Hal di atas menunjukkan pembenarannya kalau kita perhatikan beberapa fenomena yang terjadi di Indonesia belakangan ini. Banyak konflik yang terjadi di sebabkan oleh perbedaan – perbedaan di atas, sebagai contoh : Perang Saudara di Ambon, Tragedi Priok ,Peristiwa Lampung, dan mungkin yang paling hangat di dalam ingatan kita bermunculannya aliran sesat (sempalan) seperti kasus Ahmadiyah, Lia Eden, Ahmad Musaddiq (nabi palsu), Gafatar dan lain sebagainya.
Munculnya beberapa peristiwa di atas menuntut munculnya sikap yang dewasa dan berlapang dada mengingat negara kita adalah memang negara yang majemuk (plural). Namun yang terjadi belakangan ini sungguh memprihatinkan. Nilai – nilai mulia tersebut mulai tergerus oleh sebuah sikap yang bernama egoisme . Konflik – konflik dalam beragama sering kali diselesaikan dengan cara – cara yang tidak dewasa dan rentan dengan sikap anarkisme. Disinilah letak pentingnya peran ajaran agama sebagai lembaga kontrol sosial terhadap berbagai fenomena yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Agama Islam khusunya melalui kitab sucinya Al-Qur’an telah mengatur pola hubungan antar umat beragama seperi yang akan di jelaskan melaui beberapa ayat berikut ini.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana tafsir surat Al-Mumtahanah ayat 7-9?
2. Bagaimana tafsir surat Al-Baqarah ayat 62, 120 dan 213?
3. Bagaimana tafsir surat Ali Imran ayat 61?
4. Bagaimana tafsir surat Al-Kafirun 1-6?
BAB II
PEMBAHASAAN
A. Surat Al-mumtahanah: 7-9
Artinya: 7. Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. dan Allah adalah Maha Kuasa. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 8. Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil. 9. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. dan Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.
Asbabun Nuzul :
Diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Asma’ binti Abi Bakr bahwa Qatilah (seorang kafir) datang kepada Asma’ binti Abi Bakr (anak kandungnya). Setelah itu Asma’ bertanya kepada Rasulullah saw: “Bolehkah saya berbuat baik kepadanya?” Rasulullah saw menjawab: “Ya (boleh).” Ayat ini (al-Mumtahanah: 8) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang menegaskan bahwa Allah tidak melarang berbuat baik kepada orang yang tidak memusuhi agama Allah.
Diriwayatkan oleh Ahmad, al-Bazzar, dan al-Hakim-dishahihkan oleh al-Hakim, yang bersumber dari ‘Abdullah bin az-Zubair bahwa Siti Qatilah, istri Abu Bakr yang telah diceraikan pada zaman jahiliyyah, datang kepada anaknya, Asma’ binti Abi Bakr, membawa bingkisan. Asma’ menolak pemberian itu, bahkan ia tidak memperkenankan ibunya masuk ke dalam rumahnya. Setelah itu ia mengutus seseorang kepada ‘Aisyah (saudaranya) agar menanyakan hal itu kepada Rasulullah saw. Maka Rasulullah saw memerintahkan untuk menerimanya dengan baik serta menerima pula bingkisannya. Ayat ini (al-Mumtahanah: 8) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang menegaskan bahwa Allah tidak melarang berbuat baik kepada orang kafir yang tidak memusuhi agama Allah.
Tafsirnya
Secara umum, ayat ini menerangkan begitu pentingnya toleransi. Seperti dikisahkan oleh Ibnu Ishak dalam “Sirahnya” dan juga Ibnul Qoyyim dalam “Zaadul ma’ad” adalah ketika Nabi Sallallahu’alaihiwa sallam kedatangan utusan Nasrani dari Najran berjumlah 60 orang.
Diantaranya adalah 14 orang yang terkemuka termasuk Abu Haritsah Al-Qomah sebagai guru dan uskup. Maksud kedatangan mereka itu adalah ingin mengenal Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam dari dekat. Benarkah Muhammad itu seorang utusan Tuhan dan bagaimana dan apa sesungguhnya ajaran islam itu. Mereka juga ingin membandingkan antara Islam dan Nasrani. Mereka ingin bicara dengan Rasullullah Shallallahu’alaihi wa sallam tentang berbagai macam masalah agama. Mereka sampai di Madinah saat kaum muslimin telah selesai shalat Ashar. Mereka pun sampai di masjid dan akan menjalankan sembahyang pula menurut cara mereka. Para sahabatpun heboh.
Mengetahui hal tersebut, maka Rasullullah Shallallahu’alaihi wa sallam berkata “Biarkanlah mereka!” maka mereka pun menjalankan sembahyang dengan cara mereka dalam masjid Madinah itu. Dikisah-kan bahwa para utusan itu memakai jubah dan kependetaan yang serba mentereng, pakaian kebesaran dengan selempang warna-warni.
Peristiwa di atas menunjukan toleransi Rasullullah Shallallahu’alahi wasallam kepada pemeluk agama lain. Walaupun dalam dialog antara Rasullullah Shallallahu’alahi wa sallam dengan utusan Najran itu tidak ada “kesepakatan” kerena mereka tetap menganggap bahwa Isa adalah “anak Tuhan” dan Rasullullah Shallallahu’allahi wa sallam berpegang teguh bahwa Isa adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta’allah dan sebagai Nabiyullah, Isa adalah manusia biasa. Para utusan itu tetap dijamu oleh Rasullullah Shallallahu’alahi wa sallam dalam beberapa hari.
Dari ayat di atas menjelaskan bahwa Tuhan hanya melarang kamu berkawan setia dengan orang-orang yang terang-terang memusuhimu, yang memerangi kamu, yang mengusir kamu atau membantu orang-orang yang mengusirmu seperti yang dilakukan musyrikin Makkah. Sebagian mereka berusaha mengusirmu dan sebagian yang lain menolong orang yang mengusirmu.
Adapun orang-orang yang menjadikan musuh-musuh itu sebagai teman setia, menyampaikan kepada mereka rahasia-rahasia yang penting dan menolong mereka, maka merekalah yang dhalim karena menyalahi perintah Allah.
B. Surah Al-baqoroh: 62
Artinya: 62. Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
Asbabun Nuzul
Dikemukakan Ibnu Abi Hatim dari Salman al-Farisi: Saya bertanya kepada Rasulullah saw tentang para pemeluk agama yang pernah saya anut. Dia pun menerangkan sholat dan ibadah mereka. Lalu turunlah ayat ini.
Tafsirnya
Allah Swt berfirman:
Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin
Setidaknya ada tiga penafsiran mengenai siapa yang dimaksud dengan al-ladziina manu:
Pertama, orang-orang yang beriman kepada Isa as. yang hidup sebelum diutusnya Rasulullah saw. Pada saat yang sama mereka berlepas diri dari kebatilan agama Yahudi dan Nasrani. Di antara mereka ada yang sampai menjumpai Rasulullah saw dan mengikuti beliau, ada pula yang tidak sempat. Demikian menurut Ibnu Abbas dalam suatu riwayat.
Kedua, orang-orang munafik yang mengaku beriman. Penafsiran itu dikemukakan Sufyan al-Tsauri, al-Zamakhsyari, dan al-Nasafi.
Ketiga, orang-orang yang beriman kepada Nabi Muhammad saw secara benar. Di antara yang berpendapat demikian adalah al-Qurthubi, al-Thabari, al-Syawkani, dan al-Jazairi.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkata, Setelah Allah Subhanahu Wa Ta'ala menerangkan keadaan (dan hukuman bagi) orang-orang yang menyelisihi perintah-perintah-Nya dan mengabaikan larangan-larangan-Nya, melampaui batasan-batasan yang telah ditetapkan, menerjang hal-hal yang diharamkan, Allah memperingatkan bahwa barangiapa yang berbuat baik (ihsan) dan taat dari umat-umat terdahulu, maka balasannya adalah kebaikan pula (surga). Demikian hal tersebut berlaku sampai hari kiamat. Barangsiapa menaati Rasul maka ia berhak mendapatkan kebahagiaan yang abadi, tanpa rasa takut terhadap masa depan mereka, tak pula rasa sedih terhadap apa-apa yang telah mereka tinggalkan di masa lalu.
As-Suddi berkata tentang ayat ini, ayat ini turun mengenai kaum Salman Al-Farisi, yaitu ketika dia menceritakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam perihal mereka. Ia berkata, “Mereka berpuasa, shalat, beriman kepada engkau, bersaksi bahwa engkau akan diutus sebagai nabi.” Seusai menceritakan tentang pujian kepada mereka, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Wahai Salman, mereka termasuk penduduk neraka.” Jawaban itu membuat Salman merasa gelisah. Kemudian Allah Subhanahu Wa Ta'ala menurunkan ayat tersebut.
Yang dimaksud keimanan umat Yahudi adalah barangsiapa di antara mereka yang berpegang teguh terhadap Taurat dan ajaran Nabi Musa 'alaihissalam sampai datangnya Nabi Isa 'alaihissalam Ketika Nabi Isa datang, maka barangsiapa yang masih berpegang teguh terhadap Taurat dan ajaran Nabi Musa, maka ia akan celaka.
Sedangkan yang dimaksud dengan keimanan umat Nasrani adalah barangsiapa di antara mereka yang berpegang teguh terhadap Injil dan ajaran Nabi Isa a.s maka dia disebut orang beriman dan imannya diterima sampai datangnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Maka barangsiapa tidak mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan tidak meninggalkan ajaran Nabi Isa dan Injil, maka ia akan celaka.
C. Surat Al-baqoroh: 120
Artinya: 120. orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)". dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.
Asbabun Nuzul :
Diriwayatkan oleh Ats-Tsa’labi yang bersumber dari Ibnu Abbas: Bahwa kaum Yahudi Madinah dan kaum Nashara Najran mengharap agar Nabi Saw shalat menghadap kiblat mereka. Ketika Allah SWT membelokkan kiblat itu ke ka’bah, mereka merasa berkeberatan. Mereka berkomplot dan berusaha agar Nabi Saw menyetujui kiblat sesuai dengan agama mereka. Maka turunlah ayat ini (Al-Baqarah ayat 120) yang menegaskan bahwa orang-orang Yahudi dan orang-orang Nashara tidak akan senang kepada Nabi Muhammad walaupun keinginannya dikabulkan.
Tafsirnya
1). Upaya sejak dini memisahkan risalah dan pembawa risalah-nya terungkap jelas melalui ayat ini. Yaitu dengan cara memalingkan Rasul dari risalah yang dibawanya. Agen utama mereka ialah orang-orang Yahudi dan Nashrani. Pertama-tama mereka menyebarkan berita yang diakuinya sebagai ajaran yang bersumber dari Kitab Suci mereka. “Dan mereka (kaum Yahudi) berkata: ‘Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja.’ (2:80). Tujuannya, menjustifikasi supremasi mereka terhadap Rasul dan pengikutnya tanpa harus meninggalkan kebiasan-kebiasaan lama mereka seperti ajaran baru Nabi Muhammad.
2). Anak kalimat لَن تَرْضَى عَنكَ [lan tardhā ‘anka, sekali-sekali tidak akan pernah redha kepadamu (Muhammad)]. Fungsi لَن (lan) sebagai negasi taukĭd di ayat ini juga berlaku sampai Hari Kiamat. Kedua, kata تَرْضَى (tardhā) yang kata dasarnya رضى (ra-dhi-ya), diartikan dengan “merestui, meridhai, senang”. Ketiga, kata عَنكَ (‘anka), yang aslinya berasal dari dua penggal kata: عَن (‘an) dan كَ (ka). Kata عَن (‘an) sebetulnya adalah bagian dari kata تَرْضَى (tardhā), sehingga lengkapnya harus berbunyi تَرْضَى عَن (tardhā ‘an). Sehingga yang paling penting di dalam kata عَنكَ (‘anka) ini ialah huruf كَ (ka)-nya yang merupakan dhamĭr mukhathab mufrad (kata ganti orang kedua tunggal) untuk Rasulullah. Agar ayat لَن تَرْضَى عَنكَ (lan tardhā ‘anka) terus berlaku, seperti disifati oleh kata لَن (lan), sepanjang keberlakuan al-Qur’an dan risalah kenabian, maka yang bisa difahami di situ ialah bahwa ayat ini memberikan indikasi yang begitu jelas tentang mustinya selalu ada satu sosok ilahi di setiap masa yang mengganti posisi Rasul di huruf كَ (ka)-nya. Sosok-sosok inilah yang akan menerima keberlakuan ayat 120 ini pada dirinya. Kalau sekiranya yang dituju bukan satu sosok khusus, maka ayatnya akan seperti ini: “Mereka akan bersumpah kepadamu, agar kalian ridha kepada mereka. Tetapi jika sekiranya kalian ridha kepada mereka, maka sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang fasik itu.” (9:96)
3). Menurut al-Wahidi, ayat ini turun berkenaan dengan permintaan cease-fire (gencatan senjata) orang-orang Yahudi dan Nashrani kepada Rasul dalam suatu peperangan. Mereka berharap bahwa dengan cease-fire (gencatan senjata) dan waktu tangguh yang diberikan kepada mereka itu, Rasul sekaligus ridha dan sepakat dengan مِلّة (millah, pola hidup, cara berfikir) mereka. Sedangkan menurut as-Suyuthi, mengutip Ibnu Abbas, ayat ini turun berkenaan dengan pemindahan kiblat salat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram, yang membuat orang Yahudi dan Nashrani kecewa dan berputus asa dalam mengusahakan agar Nabi ridha dengan مِلّة (millah, pola hidup, cara berfikir) mereka.
4). Bahkan bukan hanya merugi. Siapa yang mengikuti مِلّة (millah, pola hidup, cara berfikir) mereka, dengan meninggalkan risalah Islamnya, maka Allah memastikan akan menarik diri sebagai Pelindung dan Penolong mereka: وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللّهِ مِن وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيرٍ
D. Surat Al-baqoroh: 213
Artinya: 213. manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), Maka Allah mengutus Para Nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. tidaklah berselisih tentang kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, Yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.
Asbabun Nuzul :
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia mengatakan: “Antara Nuh as. dan Adam as. itu berselang sepuluh generasi, semuanya berpegang pada syari’at Allah swt. Kemudian terjadilah perselisihan di antara mereka, lalu Allah Ta’ala mengutus para Nabi yang menyampaikan kabar gembira dan memberi peringatan.”
Tafsirnya
Maksudnya, mereka bersatu di atas petunjuk, kondisi itu selama sepuluh abad setelah Nabi Nuh AS, dan ketika mereka berselisih dalam perkara agama, lalu sekelompok dari mereka kafir, sedangkan sisanya masih tetap di atas petunjuk dan terjadi perse-lisihan, maka Allah mengutus kembali Rasul-rasulNya untuk mele-rai antara manusia dan menegakkan hujjah atas mereka.
Pendapat lain mengatakan, akan tetapi mereka maksudnya, dahulu manusia bersatu di atas kekufuran, kesesatan, dan kesengsaraan, mereka tidak memiliki cahaya dan tidak pula keimanan, hingga Allah merahmati mereka dengan mengutus para Rasul ke-pada mereka, مُبَشِّرِينَ "sebagai pemberi kabar gembira" bagi orang-orang yang taat kepada Allah dengan hasil ketaatan mereka seperti rizki, kekuatan tubuh, kekuatan hati serta kehidupan yang baik, dan yang paling tinggi dari itu semua adalah kemenangan dengan keridhaan Allah dan surga, وَمُنذِرِينَ "Juga pemberi peringatan" bagi orang yang bermaksiat kepada Allah dengan hasil kemaksiatan mereka seperti menahan rizki untuk mereka, kelemahan, kehinaan, serta kehidupan yang sempit, dan yang paling besar dari semua itu adalah kemurkaan Allah dan neraka.
E. Surat Ali-Imron :61
Artinya: 61. siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), Maka Katakanlah (kepadanya): "Marilah kita memanggil anak-anak Kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri Kami dan isteri-isteri kamu, diri Kami dan diri kamu; kemudian Marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la'nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.
Asbabun Nuzul
Pada hadits shahih muslim tentang turunnya ayat ini : Rasulullah s.a.w. mendo’akan fatimah, hasan, Husain, maka Nabi bersabda: ya Allah ya Tuhan ku, mereka itu adalah keluarga ku kemudian kami memohon maka kami menjadikan laknat Allah itu bagi orang-orang yang dusta. Maka kami berkata : ya Allah ya Tuhan ku laknat itu bagi orang-orang yang dusta dari kami pada urusan Isa a.s. dan ketika mereka berdo’a dan memohon mereka berkata laranglah dan terimalah dengan keharusan.
Tafsirnya
Menurut Al-Maraghi “Dalam ayat di atas perkataan anak-anak soleh dan isteri disebut terlebih dahulu daripada dirinya sendiri. Padahal seseorang sentiasa memikirkan nasib anak dan isterinya, sebenarnya adalah untuk menyatakan betapa Nabi SAW telah berasa aman, memiliki kepercayaan yang penuh dan keyakinan yang teguh dengan kebenaran misinya, hinggakan Baginda menaruh kepercayaan sesuatu misbah yang tidak diinginkan akan menimpa mereka. “Ayat ini dinamakan ayat mubahalah, ertinya berdoa agar musuhnya mendapat laknat Allah”.
Hamka berkata: “Mubahalah ialah bersumpah yang berat. Di dalam sumpah itu dihadirkan anak dan isteri dari kedua pihak yang bersangkutan, lalu diadakan untuk mempertahankan kebenaran masing-masing. “Jika kedua belah pihak masih tidak mengalah dan bertolak ansur maka tunggulah laknat-Nya kepada siapa yang masih mempertahankan pendirian yang salah. Inilah ajakan Rasulullah SAW kepada utusan-utusan Najran yang mempertahankan Nabi Isa adalah putera Allah SWT. “Ayat mubahalah adalah pembuktian antara yakin dan teguhnya orang Islam pada iman dan kepercayaannya. Keyakinan Tauhid adalah pegangan seluruh keluarga untuk mempertahankan diri hidup atau mati demi menegakkan kebenaran”.
Dari ayat ini, kita dapatkan beberapa pelajaran:
1. Pertanyaan harus dijawab dengan argumentatif dan logis, namun jiwa membangkang dan kedegilan tidak akan punya jawaban melainkan kemurkaan dan laknat. Orang-orang yang selalu mencari alasan, artinya mereka sedang menunggu hukuman Tuhan.
2. Jika kita meyakini agama Tuhan, maka kita harus berdiri tegak dan hendaknya kita ketahui bahwa pihak musuh akan mundur karena kebatilannya.
3. Ahlul Bait Rasul tak ubahnya seperti beliau, doa mereka mustajab. Rasul dengan amalannya mengenalkan Hasan dan Husein sebagai anak-anaknya dan Ali Bin Abi Thalib sebagai dirinya.
4. Meminta bantuan dari ghaib saatnya adalah setelah memanfaatkan potensi-potensi atau kekuatan-kekuatan normal. Rasul pada awalnya melakukan tabligh dan dialog, dan baru setelah itu memasuki tahap doa dan mubahalah.
F. Surat Al-kafirun:1-6
1. Katakanlah: "Hai orang-orang kafir,
2. aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
3. dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.
4. dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,
5. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.
6. untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku."
Asbabun Nuzul :
”Mufassir berkata : sesungguhnya orang meminta kepada Rasulullah s.a.w. agar menyembah tuhan mereka setahun dan setahun lagi menyenbah Allah maka mu ’az berkata: akankah kita menduakan Allah dengan sesuatu maka mereka berkata : maka selamatkanlah sebagian tuhan-tuhan kita, kami mempercayai mu dan kami menyembah tuhanmu wahai Muhammad .Maka turunlah ayat ini.”
Tafsirnya
Secara umum (global), surat ini memiliki dua kandungan utama. Pertama, ikrar kemurnian tauhid, khususnya tauhid uluhiyah(tauhid ibadah).Kedua, ikrar penolakan terhadap semua bentuk dan praktek peribadatan kepada selain Allah, yang dilakukan oleh orang-orang kafir. Dan karena kedua kandungan makna ini begitu mendasar sekali, sehingga ditegaskan dengan berbagai bentuk penegasan yang tergambar secara jelas di bawah ini :
Pertama, Allah memerintahkan Rasul-Nya Sallallahu’allahi wa Sallam untuk memanggil orang-orang kafir dengan Khitab(panggilan) ‘yaa ayyuhal kafirun’ (wahai orang-orang kafir), padahal Al-Qur’an tidak biasa memanggil mereka dengan cara yang semacam ini. Yang lebih umum digunakan dalam Al-Qur’an adalah khitab semacam ‘yaa ayyuhan naas’(wahai sekalian manusia) dan sebagainya.
Kedua, pada ayat ke-2 dan ke-4 Allah memerintahkan Rasullullah Shallallahu’allahi wa Sallam untuk menyatakan secara tegas, jelas dan terbuka kepada mereka, dan tentu sekaligus kepada setiap orang kafir sepanjang sejarah, bahwa beliau (begitu pula umatnya) sama sekali tidak akan pernah (baca: tidak dibenarkan sema sekali) menyembah apa yang disembah oleh orang-orang kafir.
Ketiga, pada ayat ke-3 dan ke-5 Allah memerintahkan Rasullullah shallallahu’allahi wa sallam untuk menegaskan juga dengan jelas dan terbuka bahwa, orang-orang kafir pada hakikatnya tidak akan pernah benar-benar menyembah-Nya. Dimana hal ini bisa pula kita pahami sebagai larangan atas orang-orang kafir untuk ikut-ikutan melakukan praktek-praktek peribadatan kepada Allah sementara mereka masih berada dalam kekafirannya. Mereka baru boleh melakukan berbagai praktek peribadatan tersebut jika mereka sudah masuk ke dalam agama Islam.
Keempat, Allah lebih menegaskan hal kedua dan ketiga diatas dengan melakukan pengulangan ayat, dimanana kandungan ayat ke-2 diulang dalam ayat ke-4 dengan sedikit perubahan redaksi nash,sedang ayat ke-3 diulang dalam ayat ke-5 dengan redaksi nash yang sama persis.Adanya pengulangan ini menunjukan adanya larangan yang bersifat total dan menyeluruh,yang mencakup seluruh bentuk dan macam peribadatan.
Kelima, Allah memungkasi dan menyempurnakan semua hal diatas dengan penegasan terakhir dalam firman-Nya : ‘Lakum dinukum wa liya diin’(bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku). Dimana kalimat penutup yang singkat ini memberikan sebuah penegasan sikap atas tidak bolehnya pencampuran antar agama Islam dan agama lainnya. Jika Islam ya Islam tanpa boleh dicampur dengan unsur-unsur agama lainnya dan demikian pula sebaiknya. Ayat ini juga memupus harapan orang-orang kafir yang menginginkan kita untuk mengikuti dan terlibat dalam peribadatan-peribadatan mereka.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dalam sebuah masyarakat yang dicirikan oleh kemajemukan agama, tidak ada hal yang sedemikian penting dan mendesak seperti hubungan antarumat beragama. Berbicara tentang hubungan antar agama, wacana pluralisme agama menjadi perbincangan utama. Pluralisme agama sendiri dimaknai secara berbeda-beda di kalangan cendekiawan Muslim Indonesia, baik secara sosiologis, teologis maupun etis.
Secara sosiologis, pluralisme agama adalah suatu kenyataan bahwa kita adalah berbeda-beda, beragam dan plural dalam hal beragama. Ini adalah kenyataan sosial, sesuatu yang niscaya dan tidak dapat dipungkiri lagi. Dalam kenyataan sosial, kita telah memeluk agama yang berbeda-beda. Pengakuan terhadap adanya pluralisme agama secara sosiologis ini merupakan pluralisme yang paling sederhana, karena pengakuan ini tidak berarti mengizinkan pengakuan terhadap kebenaran teologi atau bahkan etika dari agama lain.
B. Saran
Islam mengatur dengan jelas batas-batas pergaulan dan hubungan antara seorang muslim dan non-muslim, maka wajib bagi kita untuk mengikutinya.
Demikian makalah yang dapat kami sajikan, mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi pembaca. Kritik dan saran yang membangun kami harapkan untuk penyempurnaan penyusunan makalah selanjutnya. Jika ada kesalahan atau kekurangan dalam penyusunan makalah ini, kami mohon ma’af sebesar-besarnya.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Baghawi. Ma’alim al-Tanzil, vol. 1. Beirut: Dar al-Kutub al-?Ilmiyyah. 1993.
Al-Qurthubi. Al-Jami’ li Ahkm al-Quran, vol. 1. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.
Al-Suyuti. Al-Durr al-Mantsir fi Tafsir al-Mantsir vol. 1. Beirut: Dar al-Fikr, 1990.
Al-Zamakhsyari. Al-Kasyif, vol. 1. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah. 1995.
Al-Asafi. Madrik al-Tanzil, vol. 1. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah. 2001.
Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Semarang: Karya Toha Putra. 1995
Katsir, Ibnu. Tafsir Al-Qur’an al-‘Adhim, Juz IV. Beirut : Dar al-Ilmiyyah. 1987
Nidzam al-Din al-Naysaburi, Tafsir Gharib al-Qur’an, vol. 1 (Beirut: Dar al-Kutub al-IIlmiyyah, 1996), 302
T.M. Hasbi ash-Shiddieqy. Tafsir Al-Qur’anul Majid (An-Nuur) Juz 5. Semarang: Pustaka Rizki Putra. 1995.
0 komentar:
Post a Comment